{"id":1559,"date":"2026-10-07T03:33:07","date_gmt":"2026-10-07T03:33:07","guid":{"rendered":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/?p=1559"},"modified":"2026-10-12T03:36:56","modified_gmt":"2026-10-12T03:36:56","slug":"fusi-uin-malang-gandeng-akademisi-turki-bahas-krisis-lingkungan-dalam-perspektif-islam-international-cyber-learning-class-global-perspectives-on-islamic-studies-perkuat-internasionalisasi-dan-dor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/fusi-uin-malang-gandeng-akademisi-turki-bahas-krisis-lingkungan-dalam-perspektif-islam-international-cyber-learning-class-global-perspectives-on-islamic-studies-perkuat-internasionalisasi-dan-dor\/","title":{"rendered":"FUSI UIN Malang Gandeng Akademisi Turki Bahas Krisis Lingkungan dalam Perspektif Islam: International Cyber Learning Class &#8220;Global Perspectives on Islamic Studies&#8221; Perkuat Internasionalisasi dan Dorong Aksi Ekologis Mahasiswa"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">FUSI \u2013 Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan International Cyber Learning Class bertema &#8220;Global Perspectives on Islamic Studies&#8221; pada Rabu (7\/10\/2026). Kegiatan berlangsung pukul 13.00\u201315.00 WIB secara hibrida, yakni tatap muka di Aula Lantai 3 FUSI dan daring melalui Zoom Meeting.<br>Forum pembelajaran lintas negara ini menghadirkan B\u00fc\u015fra Nur Duran, Ph.D, akademisi Amasya University, Turki. Ia menjabat Head of the Department of Women and Family Studies Master&#8217;s Program, Institute of Social Sciences, Amasya University. Ia juga Editor Dinbilimleri Akademik Ara\u015ft\u0131rma Dergisi yang terindeks Web of Science ESCI, serta Founder dan Editor-in-Chief Bala, jurnal interdisipliner tentang anak dan masa kanak-kanak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam paparan berjudul &#8220;Juristic Reasoning in Contemporary Environmental Problems: From Scriptural Texts to Principles, and from Principles to Legal Rulings&#8221;, narasumber menegaskan bahwa perubahan iklim, pencemaran udara dan air, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, kekeringan, dan menumpuknya sampah adalah masalah global yang memengaruhi kehidupan manusia di seluruh dunia. Menurutnya, isu ini tidak lagi sebatas urusan teknis ilmuwan dan pemerintah, tetapi juga persoalan tanggung jawab moral, hukum, dan keagamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasumber mengulas lima konsep kunci pandangan Islam tentang lingkungan:<br><em>Khil\u0101fah:<\/em> manusia sebagai khalifah di bumi yang memiliki kewenangan sekaligus tanggung jawab.<br><em>Am\u0101nah: <\/em>bumi dipahami sebagai titipan, bukan milik mutlak manusia.<br><em>M\u012bz\u0101n: <\/em>keseimbangan ekologis dan keseimbangan dalam konsumsi.<br><em>Fas\u0101d: <\/em>larangan membuat kerusakan di muka bumi.<br><em>Isr\u0101f: <\/em>larangan berlebih-lebihan, termasuk dalam penggunaan air, energi, dan sumber daya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia juga memaparkan bagaimana nalar hukum Islam (<em>u\u1e63\u016bl al-fiqh<\/em>) menjawab persoalan lingkungan yang tidak dibahas langsung oleh teks, seperti emisi karbon, mikroplastik, dan limbah industri. Mekanismenya meliputi identifikasi prinsip umum, <em>illah, qiy\u0101s, ma\u1e63la\u1e25ah, dan sadd al-dhar\u0101&#8217;i<\/em>. Dalam kerangka ini, kaidah fikih bahwa mencegah kerusakan didahulukan atas meraih kemaslahatan menjadi pijakan penting dalam penilaian hukum atas isu ekologis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasumber menyoroti kesenjangan antara kesadaran dan perilaku. Generasi muda dinilai sangat sadar akan krisis lingkungan, tetapi belum diikuti tindakan yang memadai. Ia mengajukan pertanyaan kunci, yakni apakah iman dapat menjadi motivasi untuk mengubah pengetahuan lingkungan menjadi perilaku nyata. Teladan Nabi Muhammad tentang menanam pohon, bahkan ketika hari kiamat hampir tiba, diangkat sebagai contoh bahwa tanggung jawab ekologis tidak bergantung pada besar kecilnya dampak yang terlihat. Di akhir sesi, peserta diajak memilih satu tindakan pencegahan kerusakan lingkungan yang selama ini tertunda dan memulainya hari itu juga.<br><br>Pembukaan acara disampaikan oleh Wakil Dekan FUSI. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung interaktif. Mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar hubungan iman dan perilaku, penerapan konsep<em> khil\u0101fah, am\u0101nah, dan m\u012bz\u0101n<\/em>, serta penggunaan <em>u\u1e63\u016bl al-fiqh <\/em>untuk persoalan lingkungan. Narasumber mendorong mahasiswa menerjemahkan keilmuan yang dipelajari menjadi tindakan nyata dan membuka kanal kontak akademik untuk melanjutkan diskusi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui International Cyber Learning Class, FUSI UIN Malang menegaskan komitmennya pada internasionalisasi pendidikan tinggi. Komitmen itu diwujudkan melalui pembelajaran lintas negara yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan tantangan global abad ini, termasuk krisis lingkungan. Kegiatan ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi akademik dengan perguruan tinggi mitra luar negeri, dan tindak lanjut kerja sama dengan narasumber serta institusi asalnya direncanakan untuk kegiatan berikutnya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>FUSI \u2013 Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan International Cyber Learning Class bertema &#8220;Global Perspectives on Islamic Studies&#8221; pada Rabu (7\/10\/2026). Kegiatan berlangsung pukul 13.00\u201315.00 WIB secara hibrida, yakni tatap muka di Aula Lantai 3 FUSI dan daring melalui Zoom Meeting.Forum pembelajaran lintas negara ini menghadirkan B\u00fc\u015fra Nur Duran, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1560,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-1559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1559"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1559\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1561,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1559\/revisions\/1561"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fusi.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}